Friday, October 1, 2010
Terdapat seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s. w. t. Dia berkata,
" Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telah pun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu.
Sambung pemuda itu lagi, " Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi babi. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?" Jawab ahli ibadah tersebut,
Pemuda itu menyambung lagi, " Wahai tuan guru, golongan yang ketiga ku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Apabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu." " Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.
" Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" Jawab ahli ibadah itu, " Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s. w. t. sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya."
" Golongan kelima, ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya," sambung pemuda itu. " Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s. a. w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda," jelas ahli ibadah tersebut.
" Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya," " Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya," jawab ahli ibadah tadi.
" Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?" tanya pemuda itu lagi. Jawab ahli ibadah tersebut, " Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah s. w. t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya."
Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s. w. t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan dipertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta amalan sebesar zarah. Wallahua'lam..
Labels: info, various/macam-macam
Thursday, September 30, 2010
Longtime intimates are special for many reasons. They knew you and your family while you were growing up and likely have many memories and stories of you that no one else does."These friends remind you that you are still the person you've always been," says Rebecca G. Adams, PhD, a leading friendship researcher and sociology professor at the University of North Carolina at Greensboro.
Nurture these ties by starting a members-only Web site—groups on Yahoo, Google, or Facebook are free and make it easy. Use them to plan vacations or share links to digital photo albums. Or keep things low tech—just stick a card in the mail now and then, and stay in touch with phone calls. Research from the University of Notre Dame shows that people who chat at least every 15 days have the best chance of staying close over time.
Unlike members of your grade school crew, newly acquired pals have no preconceived notions about you."As we get older, we can fall into ruts," says Pamela McLean, PhD, a psychologist in Santa Barbara, CA. "New friends ignite different kinds of thinking and fresh ways of being." What's more, they'll connect you to another network of people, says Rosemary Blieszner, PhD, a professor at Virginia Tech who has researched friendships among older women. That network can be helpful if you’re looking to make a career change or find a new pool of potential dates.
Find new friends at the office, or try new activities, like that a class at the gym.
She’ll drag you out for a jog on days when you’d rather be parked on the couch.Experts agree that exercising—whether walking, golfing, or salsa dancing—is one of the most important things you can do for your physical and mental health and longevity. And a good friend may be the glue that makes this healthy habit stick. A University of Connecticut study of 189 women ages 59 to 78 found that strong social support was key to maintaining a new exercise regimen for 1 year.
For best results, set a joint exercise goal together—whether it’s going for a neighborhood walk 4 days a week or running a 5K. It's the best way to boost the get-healthy payoff of a workout partner because neither of you is poking and prodding the other, which is a recipe for resentment, says Marcia G. Ory, PhD, a researcher at Texas A&M Health Science Center.
Being part of a spiritual community—not necessarily an organized religion—helps people stay resilient, research shows.A study from Duke University Medical Center found that people who regularly attended religious services or engaged in activities such as prayer or meditation had a 50% lower risk of dying over a 6-year period than others of the same age and health status.
How did you juggle your full-time job and three kids? Your 10-years-younger friend really wants to know.Research shows that an essential element of a happy life is to nurture and feel useful to others—by cooking a wholesome meal, say, or passing on what you've learned through experience.
For many women, that itch gets scratched by raising children. But mentoring younger friends (from the office, for example) can give you that same feeling, Blieszner says.To maximize the benefits of this friendship, let advice flow in both directions. A younger confidante can explain the social networking site du jour or offer a fresh take on current events.
Becoming tight with your husband’s pals is good for your marriage.The more a couple's family and friends intermingle, the happier spouses are after even just 1 year of marriage, found one study that examined the social circles of 347 couples.
"We were surprised," says researcher Kenneth Leonard, PhD, a professor of clinical psychology at SUNY Buffalo. "Including your spouse in your network of friends is nearly as important for marital happiness as making them feel they are a part of your family."
About 85% of adult women say they have a good relationship with their mother, according to a Pennsylvania State University study.Despite the inevitable conflicts between grown moms and daughters, the relationships are generally strong, supportive, and close. "There is great value in this bond because mothers and daughters care so much for one another," says study author Karen L. Fingerman, PhD. If you’d like to be closer but run into the same roadblocks over and over, here’s some advice to overcome the most common issues.
- You find it hard to enjoy time with mom: Stop trying to change her, and focus on what you do enjoy.
- You keep clashing over the same old issues: The women who had the strongest relationships didn't take the conflicts personally. Instead, they tended to see criticism as a reflection of their mother's habits or traits.
- The relationship feels too close for comfort: Daughters who did the best with this accepted that their mothers wanted more time together. Instead of telling their moms what they couldn't do, these daughters focused on when they could get together and what they could do for their mothers.
If you’re like a lot of women, you’d drop everything to help a friend in need—but often don’t pay yourself the same respect.
So, how does one befriend herself, exactly? It starts with self-knowledge, “Getting to know yourself is an amazing adventure,” one says. “Think of what makes you fall in love with someone: how genuine, sincere, and caring they can be; the unconditional love they offer, no matter what. Doesn't that describe how you should feel about yourself?”
Peek recommends you repeat the following mantra as a reminder: "I love and honor myself as I do the other important people in my life." To give yourself the TLC you deserve, write down seven things that make you feel happy and healthy (cooking dinner, talking to a friend, running, reading a book), and make sure you do at least one every day.

visit here to know and how do you gonna do about it? also in here
Labels: health/kesihatan, info
Di keheningan pagi raya, kelihatan seorang lelaki sedang membongkok membersihkan sebuah kubur yang kelihatan agak lama. Walaupun kelihatan agak usang, kubur tersebut bersih dan terjaga rapi. Tanpa menghiraukan sesiapa, lelaki itu terus sibuk sambil tangannya yang kasar pantas mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar kubur tersebut.
Setitik demi setitik air mata suam kelihatan menitis mengalir turun menuruni pipinya. Setelah selesai kubur tersebut dibersihkan, lelaki tersebut duduk bersila sambil membaca Yasin dan doa dipanjatkan. Selesai membaca Yasin, dicapainya bekas air berisi rendaman bunga mawar lalu dicurahkan ke atas batu nisan sambil tangannya menyapu-nyapu bersih batu nisan tersebut. “Mia, Selamat Hari Raya sayang. Abang datang lagi hari ni, macam biasa. Abang masih lagi sayangkan Mia dan abang akan sayangkan Mia hingga ke akhir hayat abang” lelaki tersebut tiba-tiba bersuara, sayu. Lelaki tersebut menarik nafas panjang. Matanya yang berair itu memandang ke arah batu nisan di kuburan itu dengan pandangan yang kosong.
Fikiran beliau mengimbau ke suatu masa sepuluh tahun yang lepas.
Sepuluh tahun lalu....
Tangan Mat menggenggam erat tangan Mia bagaikan tidak akan dilepaskannya. Keadaan Terminal Bas Putra yang penuh sesak dengan orang dan dalam keadaan tolak- menolak itu bagaikan tidak dapat menguraikan pasangan kekasih itu. Mata Mat merenung tajam ke mata Mia. “Abang, kenapa pandang Mia macam tu?” Mat hanya tersenyum. “Abang rasa berat hati untuk lepaskan Mia. Terasa macam abang tak akan dapat jumpa Mia lagi” jawab Mat.
“Jangan cakap macam tu, Mia balik kampung sekejap aje. Hari raya ke-5, Mia balik semula ke KL. Abang jangan risau la.”
Mat hanya tersenyum sahaja mendengar jawapan kekasihnya. Tangannya makin erat menggenggam tangan Mia.
“Tapi, abang janji, jangan lupakan Mia tau.” Mia berkata pada Mat sambil tersenyum.
“Abang janji sayang.” jawab Mat sambil tangannya makin erat menggenggam tangan Mia. Tiba-tiba kedengaran suara dari pembesar suara mengumumkan ketibaan bas memasuki terminal. Mat segera memimpin tangan Mia menuju ke bas yang berhenti di hadapan sekali sambil tangannya yang sebelah lagi menjinjing beg pakaian Mia. Tertera pada tingkap bas tersebut ‘No. 8 KL-JB’. Mat membaca pada tiket di tangannya. Memang sah inilah bas yang perlu Mia naiki. Kaki Mat melangkah naik ke tangga bas sambil memandu Mia menuju ke tempat duduk. Kelihatan seorang perempuan tua sedang duduk bersebelahan dengan tempat duduk Mia. Mat tersenyum lega.
“Nasib baik makcik ni yang duduk sebelah Mia, kalau lelaki, kenalah aku ikut Mia balik sekali,” bisik hati Mat. Mat segera memberi salam pada perempuan tua tersebut.
“Makcik, ni awek saya, Mia. Dia duduk sebelah makcik. Mintak makcik tolong tengok- tengokkan dia ye” sapa Mat. Mia dengan segera menghulurkan tangan pada makcik itu sambil memperkenalkan diri.
“Eloklah tu nak. Sekurang-kurangnya ada juga teman makcik berbual. Sila duduk nak,” jawab makcik tersebut sambil tersenyum. Setelah meletakkan beg Mia, Mat segera turun dari bas sambil diekori oleh Mia dari belakang. “Mia, bas dah nak bergerak. Abang pun tak boleh lama di sini. Bila Mia sampai kampung nanti, kirim salam abang pada mak dan ayah Mia. Jangan lupa pada adik Mia juga tau,” pesan Mat.
“Baiklah abang. Abang pun sama tau, kirim salam sayang Mia pada mak dan ayah abang,” jawab Mia kembali. Enjin bas tiba-tiba dihidupkan. Mia memandang ke arah Mat. Dengan cepat Mia memegang dan terus mencium tangan Mat. “Abang, Mia pergi dulu ye. Ingat pesan Mia tadi. Jangan lupakan Mia ye. Mia sayangkan abang.” Kata Mia sambil tersenyum. Mat hanya memandang ke arah Mia. Tangan Mia digengam erat. Perlahan-lahan Mat melepaskan sebuah ciuman pada dahi Mia. Muka Mia tiba-tiba menjadi merah. Mia tersipu-sipu malu. “ Mia, walau apapun terjadi, abang tetap sayangkan Mia hingga ke akhir hayat abang. Mia ingat kata-kata abang tu ye.” Mia hanya menganggukkan kepala sambil linangan air mata bergenang di matanya. “Mia akan ingat abang sampai bila-bila. Mia pergi dulu bang. Janji jangan lupakan Mia ye” jawab Mia sambil menarik tangannya dari tangan Mat yang bagaikan tidak mahu melepaskan tangan Mia dan terus melangkah masuk ke dalam perut bas. Pintu bas ditutup sambil bas tersebut bergerak perlahan-lahan keluar dari terminal sambil diperhatikan oleh Mat hingga hilang dari pandangan mata. Mat berdiri tegak bagaikan mengelamun. “Kenapa hatiku bagaikan ada sesuatu yang tak kena?” bisik hatinya sambil kakinya melangkah pergi ke ruang letak motorsikal. Setelah mengenakan topi keledar, Mat terus menunggang motorsikalnya keluar dari Terminal Bas Putra menuju ke rumah.
Keadaan ibukota malam itu bagaikan pesta dengan lampu berkilauan di kiri kanan jalan.
Tapi hati Mat direnggut risau mengenang apa yang tak pasti.
Di rumah Mat, lampu pelita bergemerlapan menanti ketibaan Aidilfitri. Mat pula berehat di luar rumah setelah penat membantu ibubapanya menyiapkan persiapan hari raya. Kelihatan kanak-kanak bising sambil bermain bunga api. Mat hanya memandang dengan pandangan kosong. Keriuhan kanak-kanak langsung tidak menarik perhatiannya. Hatinya yang tadi penuh kerisauan mula berdebar-debar bagai ada sesuatu yang akan berlaku. Mat bangun dan terus masuk ke rumah menuju ke biliknya. Tanpa berlengah, dia ke bilik air mengambil wuduk. Sejadah di bentangkan dan Mat terus menunaikan solat sunat sebelum masuk tidur. Namun Mat tidak boleh tidur.
Fikirannya melayang memikirkan Mia sahaja. Walaupun matanya tak mahu pejam, dipaksakan juga hingga terlelap. Pagi esoknya, Mat terbangun setelah azan Subuh berkemumandang. Setelah menunaikan solat Subuh, Mat ke dapur membantu ibunya menyiapkan juadah untuk hari raya. Setelah itu, dia bersama-sama abahnya ke masjid menunaikan solat sunat Aidilfitri. Di rumah, setelah menjamu selera dan bermaaf- maafan, Mat termenung sambil merenung ke luar rumah melihat kanak-kanak gembira berhari raya. Tiba-tiba telefon bimbit Mat berbunyi. Mat mengambil telefonnya dan merenung ke arah telefonnya.
“Panggilan dari Johor.” Bisik Mat. “Hello. Assalamualaikum” jawab Mat.
“Waalaikumsalam. Abang Mat ye?” balas pemanggil itu. “Ini adik Mia, Mira,” pemanggil memperkenalkan diri dalam nada yang tersekat-sekat. “Abang Mat, Mira minta maaf mengganggu, tapi Mira nak beritahu Abang Mat, yang kak Mia dah tiada… … Bas kak Mia kemalangan malam tadi masa baru sampai ke Johor Bharu.” Kata Mira dengan nada yang tersedu-sedu. “Insyaallah, petang selepas asar ni nak dikebumikan” sambung Mira singkat. Mat hanya tersentak. Pandangannya kabur dan terus gelap. Kakinya bagaikan tak dapat lagi nak menampung berat badannya. Dengan cepat Mat duduk di sofa. Nafas Mat tersekat-sekat dan dadanya berombak kuat. Air matanya mula berlinang menitis membasahi pipi. Telefon bimbitnya terlepas dari tangan. “Astaghfirullahalazim. Ya Allah Ya Tuhanku,” hanya itu sahaja suara yang keluar dari bibir Mat. Melihatkan keadaan Mat, ibu Mat menerpa ke arah anak sulungnya. “Mak, Mia dah tak de, mak. Mia dah meninggal. Kemalangan bas pagi tadi” beritahu Mat dengan suara yang tersekat-sekat.
Mak Mat hanya dapat menarik nafas sambil terduduk di sebelah anaknya. Tiada suara yang keluar dari bibirnya, hanya air mata bercucuran membasahi pipi tuanya.“Mak, abah, Mat minta izin untuk pergi ke Johor, hari ini juga.” pinta Mat pada ibubapanya.
“Baiklah Mat, kau bawa kereta abah,” jawab ayah Mat
“Tak pelah abah, Mat pergi dengan motor Mat. Mat lebih selesa,” jawab Mat.
“Baiklah Mat. Tapi hati-hati,” pesan abah Mat.
Mendengar keizinan yang di beri, Mat segera berlari menuju ke biliknya untuk bersiap. Motornya sudah gagah tersedia menunggu untuk ditunggang. Motorsikal Kawasaki ER6F pemberian abahnya itu banyak mengimbau kenangan antaranya dengan Mia. Dengan sekali tendangan sahaja, enjin motorsikal Mat mengaum garang dan terus meluncur keluar melalui pintu pagar rumah sambil di perhatikan oleh ibubapa Mat. Perjalanan jauh tidak menjadi masalah pada Mat kerana sebagai ahli kelab motor, beliau banyak kali melakukan konvoi ke lokasi-lokasi yang jauh. Motorsikalnya juga diselenggara dengan baik membuat perjalanan berjalan lancar. Tepat jam 5 petang, Mat tiba di rumah Mia. Deruman enjin motorsikal Mat menarik perhatian orang ramai yang berada di rumah Mia. Melihatkan Mat datang, Mira segera meminta ayahnya membawa Mat masuk. Mat terus menerpa ke arah ayah Mia sambil mencium tangan ayah Mia. Dengan linangan air mata, ayah Mia memeluk Mat. “Mia dah tak ada Mat,” kata ayah Mia. “Mari tengok dia,” ajak ayah Mia.
Perlahan-lahan Mat melangkah menuju ke atas rumah Mia. Dari pintu rumah, kelihatan sekujur tubuh ditutupi kain batik sambil dikelilingi orang-orang sambil membaca Yasin. Kelihatan ibu Mia berteleku di sisi tubuh Mia sambil teresak-esak. “Ibunya, ini Mat. Tolong bukakan tutup muka Mia tu.” Kata ayah Mia. Ibu Mia memandang ke arah Mat sambil linangan air matanya makin mencurah-curah keluar. Tangannya perlahan-lahan membuka kain batik yang menutupi muka Mia. Mat menanti dengan hati yang berdebar-debar.
Setelah kain batik di selak, terserlahlah wajah Mia, kekasihnya yang amat dicintainya. Walaupun rohnya sudah tiada, wajah Mia tetap ayu, tetap cantik. Tanpa dapat ditahan, air mata Mat berlinang keluar membasahi pipi dan juga lantai. Mat membacakan Al- Fatihah dan doa untuk kekasih tercintanya. Keadaan menjadi sepi. Kesayuan mula terasa pada yang hadir. Mira hanya dapat menutup mukanya dengan telapak tangannya sambil teresak-esak.
Jenazah Mia di alihkan ke dalam pengusung. Mat memegang kayu pengusung yang di hadapan sekali. Perlahan-lahan pengusung dimasukkan ke dalam van jenazah. Setelah van jenazah meninggalkan rumah menuju ke tanah perkuburan, hujan mulai turun. Setelah selesai upacara pengkebumian, Mat meminta izin dari ayah Mia untuk bertafakur seketika. Tinggallah Mat seorang diri melutut di sisi kubur Mia. Hujan lebat membasahi bumi tidak di hiraukan. Linangan air mata Mat masih tidak berhenti.
“Mia, abang minta maaf jika abang ada buat salah dan silap pada Mia,” kata Mia dengan tersedu-sedu. “Abang sangkakan hubungan kita akan berakhir sebagai suami isteri, tapi takdir menentukan segala-galanya. Abang tak boleh melawan takdir sayang,” sambung Mat. “Abang pernah berjanji untuk menyayangi Mia hingga ke akhir hayat abang, dan abang akan tepati janji abang itu, walaupun Mia tiada lagi di sisi abang. Bagi abang, Mialah kekasih abang yang pertama dan yang terakhir.”
Linangan air mata dan sedu Mat makin bertambah. Tangannya menggenggam kuat tanah kubur Mia. “Abang berjanji, abang akan tetap sayangkan Mia dan abang takkan lupakan Mia hingga ke akhir hayat abang,” kata Mat sambil berdiri. Perlahan-lahan Mat mengatur langkah longlai meninggalkan tanah perkuburan dalam hujan yang makin mencurah-curah.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Kicauan burung menghentikan lamunannya. Hari pun sudah menjelang tengahari. “Mia, abang balik dulu Mia. Jauh lagi perjalanan abang ke Kuala Lumpur. Motor kita pun abang masih guna lagi. Masih boleh bawa abang berjumpa Mia hari ini. Macam manapun, abang tetap sayangkan Mia hingga ke hembusan nafas abang yang terakhir. Mia ingat tu ye sayang.” Kata Mat dengan lembut. Tangannya menabur bunga-bunga yang dipotong rapi ke atas kubur Mia. Setelah itu Mat bangun sambil mengemaskan barang-barang dan menuju ke arah motornya. Walaupun sudah sepuluh tahun berlalu, motorsikal pemberian abah Mat masih kukuh lagi.
Perlahan-lahan Mat menunggang motornya meninggalkan pusara kekasih tercintanya.
Ketika Mat keluar dari simpang tanah perkuburan, tiba-tiba sebuah kereta dengan laju keluar dari selekoh dan terus merempuh Mat tanpa sempat mengelak. Mat tercampak jauh. Darah memercik membasahi motor Mat. Tubuh Mat terbaring di atas jalan raya. Matanya memandang ke arah langit sambil mulutnya terkumat-kamit mengucap dua kalimah syahadah. Pandangannya mulai kabur, kemudian kelam, kelam dan terus gelap. Nafas Mat berombak deras, kemudian perlahan dan perlahan. Apa yang kelihatan di anak matanya hanyalah raut wajah ayu Mia ketika dia mencium dahi Mia sepuluh tahun yang lepas.
Setelah ambulan tiba, Mat disahkan meninggal dunia di tempat kejadian, tidak jauh dari kubur Mia. Akhirnya Mat dapat mengotakan janjinya iaitu untuk menyayangi kekasihnya, Mia, hingga ke hembusan nafasnya yang terakhir.
Labels: love
saya sangat mengantuk
dah tersengguk-sengguk menahan ngantuk
dan juga sakit perut
~makan banyak semalam~
dah lah air-cond di ofis ini
sangat sejuk
dan membuatkan orang boleh membeku
mentang-mentang lah bilik server di sebelah saja
jadi kami di dalam ini menjadi mangsa
tidak boleh meningkatkan suhu
untuk pemanasan badan
kerana jika suhu meningkat
dan kepanasan sudah dalam keadaan yang diingini
server di bilik sebelah pula yang akan buat hal
jadi
kami
manusia
terpaksa
berkorban
menahan
sejuk
yang teramat
demi
menjaga
'kesihatan'
server
di bilik sebelah.
kamu semuatentu tertanya-tanya
apa kena mengena
server di bilik sebelah
tetapi ofis pula yang kena maintain
air-cond sejuk-sejuk?
saya tidak mampu untuk menjawab soalan itu.
sila tanya pada abang-abang maintenance
yang selalu men'sound' kami
supaya tidak tutup air-cond
atau ubah suhu nya..
tangan dan jari jemari
sudah sangat kering
dan berkedut
seperti
tangan seorang makcik
yang berusia 80 tahun

Labels: me
Wednesday, September 29, 2010
Nak tahu tak satu fakta menarik tentang Babi?
kenapa babi diharamkan dalam Islam..
saya sekadar berkongsi apa yang saya tahu..
Seperti yang kita ketahui,
kebanyakan orang Islam yang sering pergi ke luar negara
seperti Eropah dan Amerika
tidak tahu atau mengambil kisah
yang kebanyakan makanan di sana mempunyai
babi sebagai asas makanan
selain daripada arak.
Kisahnya..
Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis.
Mereka di sana bertanyakan padanya
mengapa diharamkan babi dalam Islam
dan rahsia disebalik pengharamannya dalam penyediaan makanan.
Mereka mempersoalkan tentang itu,
"Umat Islam mengatakan bahawa babi itu haram
kerana tabiatnya yang memakan sampah kotor
yang mengandungi cacing pita dan bakteria-bakteria lain.
Di zaman ini, hal seperi itu sudah tiada lagi
kerana babi diternak dalam penternakan moden
dengan jaminan kebersihan
dan pelbagai proses sterilisasi yang mencukupi.
Oleh itu, bagaimanan mungkin babi-babi
yang diternak dan dijaga dengan baiknya
terjangkit dengan kekotoran , cacing pita serta bekteria yang lainnya?"
Imam Muhammad Abduh tidak menjawab pertanyaan itu.
Dengan menggunakan kebijaksanaan dan kecerdikannya
beliau meminta mereka untuk membawa
2 ekor ayam jantan
dan 1 ekor ayam betina
serta 2 ekor babi jantan
dan 1 ekor babi betina.
Mereka bertanya
"untuk apa semua ini?"
Beliau menjawab
"penuhi permintaan saya maka saya akan perlihatkan suatu rahsia"
maka mereka memenuhi permintaan tersebut.
Kemudiannya beliau meminta
mereka melepaskan
2 ekor ayam jantan bersama 1 ekor ayam betina tadi ke dalam 1 kandang.
Kedua-dua ayam jantan itu berkelahi dan cuba saling menbunuh
dengan tujuan untuk mendapatkan ayam betina untuk dirinya sendiri
hinggalah salah satunya tewas
lalu beliau memerintahkan supaya ayam-ayam itu dikurung semula.
Kemudian beliau memerintahkan pula
mereka melepaskan 2 ekor babi jantan itu dan 1 ekor babi betina
ke dalam kandang yang sama.
Kali ini, mereka menyaksikan keanehan.
Babi jantan yang satu itu membantu babi jantan yang lagi satu
untuk melepaskan hajat seksualnya bersama
tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau
keinginan untuk menjaga babi betina dari babi jantan yang lagi satu itu.
Dan dengan itu, beliau berkata
"Saudara sekalian,
daging babi membunuh ghirah' orang yang memakannya.
Itu lah yang terjadi pada kalian yang memakannya.
Seorang lelaki dari kalian
melihat isterinya bersama lelaki lain
dan membiarkannya tanpa rasa cemburu
dan begitu juga apabila
seorang bapa dari kalian
melihat anak perempuannya bersama lelaki asing
dan membiarkan keadaan itu tanpa rasa cemburu dan was-was
kerana daging babi itu
menularkan sifat-sifatnya
pada orang yang memakannya"
~p/s:
jadi..sedar lah wahai muslim sekalian..
jangan terlalu nak mengikut gaya hidup Barat
dengan hubungan "three'some" atau yang entah apa-apa itu
cukup lah hubungan itu dijaga dengan baik
dan dilakukan dengan orang yang berhak ke atas kita..~
Wallahualam..
Labels: health/kesihatan, info, pet










